Ketika kita memahami sebuah kata “kegagalan”, tentunya kata tersebut mempunyai arti yang bersifat negatif. Kata kegagalan dapat berarti sebuah ketidakmampuan untuk mencapai sesuatu. Hampir sama seperti makna “harmatia” yang saya sampaikan dalam posting sebelumnya yang berarti tidak mencapai sasaran. Kegagalan yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini yaitu menyangkut kegagalan seseorang yang berstatus / menyatakan dirinya sebagai seorang murid Kristus (Yesus Kristus).
Pada hari yang lalu, entah mengapa ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, saya merasakan suatu perasaan yang sangat tidak menyenangkan di hati (ya iyalah, namanya juga perasaan pasti adanya di hati, masa di batok kepala). “I fill something like there is a hole in my life”. Ya, sepertinya ada sesuatu kekurangan, yang selama ini saya sadar atau tidak sadari yang sepertinya akan menelan seluruh hidup saya. Seperti perasaan seseorang yang patah hati, atau seseorang yang telah ditinggal pergi orang yang dikasihinya, kalau seorang penyair bilang “gundah gulana”(kaya anak kecil aja mau bilang “rendah gulanya”) atau mungkin seandainya Anda dapat memahami apa yang Pengkotbah sampaikan ketika mencapai satu kata desperate dengan ucapan “Segala sesuatunya sia-sia, percuma orang berlelah-lelah, dan percuma juga orang yang bermalas-malasan, karena semuanya akan berakhir pada sebuah kesia-siaan”.
